Jejak Digital | Pekanbaru,
— Gedung Rektorat Universitas Lancang Kuning (Unilak) mendadak tegang pada Selasa (28/4) siang. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Unilak (AMPUN) mengepung gedung utama, namun upaya mereka untuk berdialog menemui jalan buntu. Sang Rektor dituding "lari dan sembunyi" dari tanggung jawab setelah tidak kunjung menampakkan diri menemui massa.


Aksi yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB ini diwarnai dengan orasi-orasi tajam. Mahasiswa datang membawa segudang pertanyaan terkait borok pembangunan dan kebijakan keuangan kampus yang dinilai tidak transparan. Namun, setelah beberapa jam menunggu, tidak ada kejelasan tentang status pimpinan tertinggi universitas.


"Kami datang dengan keresahan. Tapi apa balasannya? Pintu Rektorat terkunci rapat. Apakah begini cara pemimpin akademik bersikap saat mahasiswanya meminta penjelasan?" teriak Koordinator Lapangan, Ahmad Nasir Harahap, di tengah kerumunan massa yang mulai memanas.


Kekecewaan massa memuncak saat mengetahui aspirasi mereka hanya disambut oleh barikade keamanan, tanpa ada kepastian kapan Rektor bisa berdialog. Padahal, ada 6 poin tuntutan krusial yang dibawa, termasuk penurunan kualitas tiga, dugaan kegagalan proyek pembangunan turap yang telah roboh dan penggunaan vendor yang sama pada proyek kelas serbaguna senilai Rp10 miliar yang dinilai bermasalah secara struktur sehingga membahayakan keselamatan. 


"Kami tidak akan diam melihat anggaran Rp10 miliar dipertaruhkan untuk proyek yang diduga kurang perencanaan. Jika Rektor tetap memilih bersembunyi di balik dinding kaca kantornya dan bungkam soal kenaikan SPP serta biaya wisuda yang mencekik, maka jangan salahkan jika massa yang datang nanti akan lebih besar," tambah perwakilan massa aksi lainnya.


Hingga berita ini diturunkan, massa masih menunggu kesempatan berdialog dengan perasaan kecewa yang mendalam. Sikap diam dan absennya Rektor di tengah aksi massa ini dinilai sebagai preseden buruk bagi demokrasi dan keterbukaan informasi di lingkungan kampus kebanggaan masyarakat Riau tersebut.***