Jejak Digital | Kepulauan Meranti – Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kepulauan Meranti melakukan survei awal peninjauan kearifan lokal di Desa Tanjung Darul Takzim, Kecamatan Rangsang Barat, Kamis 14/5/2026.
Turut hadir bersama Datuk Seri Afrizal Cik, Tim Survei Awal Peninjauan Kearifan Lokal LAMR Kepulauan Meranti Datuk Misdar Efendi, Datuk Hanafi, Datuk Izam, serta Sekretaris LAMR Kecamatan Tebing Tinggi Barat Jamian. Kedatangan tim disambut langsung Kepala Desa Tanjung Darul Takzim Basri Rasyid.
Ketua DPH LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik mengatakan, kegiatan ini bertujuan menggaungkan, mendata, menjaga kearifan lokal, serta warisan budaya lokal di desa-desa wilayah Meranti.
Lalu, hasil survei awal akan ditindak lanjuti dengan peninjauan kearifan lokal yang melibatkan pengurus LAMR dan masyarakat lebih luas.
"Kegiatan survei awal peninjauan kearifan lokal ini kami laksanakan untuk mengetahui seberapa banyak kearifan lokal yang masih terjaga di desa-desa di Kepulauan Meranti," ujar Datuk Seri Afrizal Cik.
Dari pengamatan tim, beberapa tradisi dan kearifan lokal masih lestari di Desa Tanjung Darul Takzim. Di antaranya pelestarian kayu bakau dan mangrove di tepian sungai yang dilarang ditebang, sehingga pertumbuhannya subur dan tinggi menjulang.
Selain itu, terdapat perlindungan tanaman di sekitar Tasik Nambus, tradisi "Bele Kampung" atau "Beratip" untuk menolak bala, serta tradisi "Mandi Syafar" yang dilaksanakan di Tasik Nambus setiap Rabu terakhir bulan Syafar. Berbagai seni budaya lain juga masih hidup di desa tersebut.
Deretan mangrove di Desa Tanjung Darul Takzim masih berdiri utuh. Air gambut mengalir jernih di parit-parit desa. Sebagian hutan alam juga belum terusik.
Warga memang melarang penebangan kayu mangrove. Di desa ini tak ada satu pun panglung arang yang berdiri. Hasilnya, tanah tetap subur dan abrasi tak masuk, berbeda dengan kondisi sejumlah desa lain di Kepulauan Meranti.
Sumber: Humas LAMR Kepulauan Meranti
Editor: Gurgur Saut.


Social Header